Waspada Hipoglikemia saat Berpuasa

Admin - 2019-05-09

Berpuasa berarti menahan makan dan minum selama lebih dari 12 jam dari azan Subuh hingga berbuka saat azan Magrib. Saat tubuh tidak mendapatkan makanan dalam waktu yang lama, hati-hati dengan kondisi hipoglikemia.
 
Ahli endokrinologi, dr Ketut Suastika menjelaskan, hipoglikemia merupakan kondisi kadar gula darah rendah di bawah 70 mg/dL. Kondisi ini lebih sering terjadi saat bulan puasa.

"Dalam studi di 13 negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim, kejadian hipoglikemia lebih besar terjadi saat puasa dibandingkan tidak puasa," kata Ketut dalam diskusi dengan MSD Indonesia, beberapa waktu lalu.
 
Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada orang dengan diabetes. "Jarang ada hipoglikemia pada orang tanpa diabetes," tutur Ketut.

Ketut menjelaskan, kondisi hipoglikemia pada diabetes dalam keadaan darurat merupakan kegawatan. Dalam jangka pendek, hipoglikemia dapat membuat orang tidak sadarkan diri. Sementara dalam jangka panjang, apabila terus-terusan terjadi, kondisi ini dapat memicu penyakit jantung.

Hipoglikemia ditandai dengan penurunan energi yang membuat jantung berdebar, tremor, gelisah, berkeringat, dan kesemutan. Pada gejala yang berat, kondisi ini membuat otak kekurangan makanan sehingga dapat tiba-tiba menjadi lesu, lemas, kejang-kejang, koma, bahkan kematian jika gula darah sudah terlalu rendah.

"Makin rendah gula darah, makin tinggi tingkat kematian," ucap mantan rektor Universitas Udayana ini.
Sebagai penanganan pertama, orang dengan hipoglikemia mesti langsung diberikan karbohidrat bentuk apa saja untuk meningkatkan kadar gula darah. 

Ketut juga menyarankan agar orang dengan diabetes berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan berpuasa.
 
 
.