Kenapa Streaming Musik Mungkin Tidak Ramah Lingkungan

Admin - 2019-03-04

Pengaliran atau streaming telah menjadi cara paling populer untuk mendengarkan musik, tapi format lama seperti kaset dan vinyl mengalami peningkatan penjualan dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, penjualan vinyl naik 1.427% sejak 2007, laku sekitar empat juta LP pada 2018 di Inggris saja.
 
Karena kepopuleran vinyl tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, berarti lebih banyak piringan hitam yang tidak bisa didaur ulang akan diproduksi. Hal ini bisa berdampak negatif pada lingkungan.
 
Meskipun sampul album umumnya dibuat dari kertas karton yang bisa didaur ulang, perekam suara awalnya dibuat dari shellac, sebelum digantikan dengan vinyl yang tidak bisa didaur ulang. Shellac adalah resin alami yang dikeluarkan oleh serangga Kerria lacca betina, yang ditangkap dari pohon untuk memproduksi piringan hitam gramofon. Karena shellac tidak didapatkan dari bahan bakar fosil, jejak karbonnya lebih rendah daripada piringan hitam modern.
 
Akan tetapi, perekam suara dari shellac rapuh dan gampang rusak karena air dan alkohol, perekam dari plastik PVC dikembangkan sebagai alternatif yang lebih tahan lama. Dalam kondisi ideal, dengan sedikit oksigen dan tanpa pergerakan, sampah PVC mungkin butuh berabad-abad untuk terurai.
 
Kondisi lingkungan kebanyakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) – dengan keasaman dan temperatur tanah yang berbeda-beda – bisa menyebabkan sampah album PVC menghasilkan lindi yang mengandung bahan pemplastis (larutan yang ditambahkan ke plastik untuk membuatnya lebih fleksibel dan kuat). Sampah-sampah tersebut bisa bertahan lebih lama dari TPA itu sendiri atau tumpah ke lingkungan sebagai polutan.
 
Piringan hitam modern biasanya mengandung sekitar 135g materi PVC dengan jejak karbon sebesar 0,5kg karbon dioksida (berdasarkan 3,4kg CO2 per 1kg PVc). Penjualan 4,1 juta rekaman akan menghasilkan 1,9 ribu ton CO2 — tanpa menghitung jejak dari transportasi dan kemasan. Angka tersebut adalah total jejak karbon dari hampir 400 orang per tahun.
 
Pada tahun 80-an, piringan hitam digantikan oleh Compact Disc (CD), yang menjanjikan ketahanan dan kualitas suara yang lebih baik. CD dibuat dari lapisan polikarbonat dan aluminium, yang dampak lingkungannya sedikit lebih rendah dari PVC, dan proses pembuatannya menggunakan lebih sedikit materi daripada piringan hitam.
 
Akan tetapi, CD tidak bisa didaur ulang karena terbuat dari material campuran, yang sulit dan tidak ekonomis untuk dipisahkan menjadi komponen-komponennya untuk proses daur ulang. CD juga dikemas dalam polikarbonat yang rapuh, dan yang, meski hanya satu material, tidak banyak didaur ulang. Ia juga tidak sekuat yang awalnya dipikir banyak orang, jadi CD yang tergores dan rusak seringkali berakhir di TPA.
 
Sementara CD berkualitas tinggi bisa bertahan selama 50 sampai 100 tahun dalam kondisi ideal, tidak demikian halnya dengan banyak CD murah dan berkualitas rendah. CD seperti ini mudah rusak karena paparan langsung sinar matahari dan panas, berubah bentuk karena perubahan temperatur, gravitasi, goresan, sidik jari, dan noda — dan kemudian dibuang.
 
Namun teknologi digital saat ini memberi kita kualitas musik tanpa cela dan tanpa penurunan mutu fisik seiring waktu. Musik kini mudah disalin dan diunggah, dan bisa diputar dengan cara streaming tanpa diunduh. Karena musik digital kita tidak 'senyata' vinyl atau CD, tentunya ia lebih ramah lingkungan?
 
Meskipun format baru tidak membutuhkan material, tidak berarti ia tidak berdampak bagi lingkungan. File elektronik yang kita unduh disimpan dalam server yang aktif. Informasi kemudian diambil dan dipancarkan melalui jaringan ke router, yang ditransfer melalui nirkabel wi-fi ke perangkat yang kita gunakan. Ini terjadi setiap kali kita mengalirkan lagu, yang membutuhkan energi.
 
 Ketikan vinyl atau CD dibeli, ia bisa diputar berulang kali, ongkos karbonnya hanya muncul dari memainkan pemutar rekaman. Namun, jika kita mendengarkan musik lewat pengaliran dengan menggunakan sistem suara kualitas tinggi atau hi-fi, kita diperkirakan akan menggunakan 107 kilowatt jam listrik dalam setahun, dengan ongkos £15.00 (sekitar Rp280.000). Pemutar CD hanya menggunakan 34,7 kilowatt jam setahun, dengan ongkos £5 (sekitar Rp93.344).
 
Jadi, mana pilihan yang lebih hijau? Tergantung pada banyak hal, termasuk berapa kali Anda mendengarkan musik.
 
Jika Anda hanya mendengarkan suatu lagu satu-dua kali, maka pengaliran adalah pilihan yang terbaik. Jika Anda mendengarkan berulang-ulang, salinan fisik adalah yang terbaik — mengalirkan suatu album lewat internet lebih dari 27 kali mungkin akan menghabiskan lebih banyak energi dari yang dibutuhkan untuk membuat sekeping CD.
 
Jika Anda ingin mengurangi dampak pada lingkungan, maka vinyl jadul bisa menjadi pilihan yang bagus untuk album fisik. Untuk musik online, penyimpanan lokal di ponsel, komputer, atau drive jaringan lokal menjaga data dekat dengan pengguna dan mengurangi kebutuhan pengaliran dari peladen di lokasi yang jauh lewat jaringan yang memakan banyak daya.
 
Di dunia tempat semakin banyak hubungan ekonomi dan sosial kita berlangsung di dunia maya, piringan hitam dan format musik jadul lainnya, melawan tren itu. Alih-alih, kebangkitan vinyl menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya kita inginkan dalam media dan kehidupan secara luas — pengalaman yang berharga dan, dengan perawatan yang baik, bertahan lama. Format musik lama punya kesan penting dan permanen yang melekat padanya, terhubung dengan kita dengan cara yang tidak bisa ditiru musik digital.
 
Sepertinya apapun formatnya, memiliki salinan musik kesukaan dan paling berharga bagi kita, dan memainkannya lagi dan lagi, mungkin merupakan pilihan terbaik bagi lingkungan kita.
 
 
Source:  bbc.com
.